http://nofieiman.com/2007/08/menyalahkan-kemiskinan/
Menyalahkan Kemiskinan
August 15th, 2007 | Economics
Hebatnya bangsa ini, kemiskinan bisa jadi “excuse” untuk melakukan apapun. Mulai dari meminta-minta di jalanan, ngutil barang kepunyaan orang, merusak fasilitas publik, sampai memotong rel kereta api. Mirip-mirip jaman wild west — mencari kesempatan dalam kesengsaraan orang lain.
Barangkali ini bukan sekadar pencurian biasa, karena naluri su’udzon saya membisikkan ini adalah kejahatan terencana. Mencuri rel risikonya tak sepadan dengan usaha yang dikeluarkan. Lebih seru kalau kita potong sedemikian rupa agar kereta anjlok, lalu saat penumpang menyelamatkan diri kita masuk dengan alibi menyelamatkan penumpang sambil mengambil barang berharga. Lima meter rel tak ada artinya dibanding 5 dompet, 5 arloji, 5 ponsel, atau mungkin 5 laptop.
Kalau memang benar adanya, bangsa ini mungkin bangsa yang paling egois dan hanya memikirkan perut sendiri. Dengan alasan kemiskinan haram bisa jadi halal. Kemiskinan bisa menjadi justifikasi untuk berbuat salah.
Adam Smith pernah menyebut bahwa creating wealth pada dasarnya mudah: you improve the skill, dexterity, and judgement of workers. Masalahnya terletak pada how can society do that — bagaimana society (dalam hal ini rakyat Indonesia) bisa meningkatkan productive power mereka masing-masing.
Ini pun sebenarnya “mudah” diatasi, yaitu dengan pertukaran (perdagangan). Manusia memiliki kecenderungan untuk saling menukarkan satu dengan yang lain. Spesialisasi muncul sebagai akibat adanya perbedaan dan keterbatasan talenta yang dimiliki tiap orang. Perbedaan sekaligus keterbatasan tersebut muncul dari kebiasaan, adat istiadat (budaya), maupun pendidikan.
Kita tahu bahwa setiap orang good at one thing. Kita juga tahu bahwa seorang spesialis umumnya bisa melakukan bidang keahliannya lebih cepat dan lebih baik daripada seorang generalis. Perbedaan produktivitas spesialis bisa puluhan atau ratusan kali lebih tinggi daripada produktivitas seorang generalis.
Tapi betapapun manusia menyisakan small part of his wants yang tidak mampu diproduksi sendiri. Akan lebih ekonomis bila ia melakukan pertukaran atas surplus yang dimilikinya terhadap produksi orang lain yang menjadi kebutuhannya. Pertukaran yang kontinu inilah yang kemudian melahirkan commercial society. Semakin sedikit pertukaran yang timbul berarti produktivitas semakin rendah karena semakin sedikit barang/jasa yang go around dan kesejahteraan kian menurun. Begitu juga sebaliknya.
Adam Smith bilang, “And it is goods, not monetary gold or silver, that are the true measure of wealth.” Walau uang tak melulu bisa membeli segalanya, uang bisa membeli peace of mind. Dan karenanya kemiskinan tetap harus diperangi — bukan dengan menukarkan nyawa orang lain untuk mengatasi shortage sesaat, melainkan lewat penanaman kebiasaan hidup dan budaya yang produktif, dan yang tak kalah penting, pendidikan.