Feeds:
Tulisan
Komentar

Forum Diskusi Padmanaba

http://groups.yahoo.com/group/padmanaba/message/301

RE: [padmanaba] Nderek dipun tepangaken

 

dear all

temans ……….

tanggal 29 Mei 2005 yl. di Jakarta baru saja diadakan reuni akbar yang dihadiri seluruh angkatan,

bahkan saya dengar infonya beberapa guru hadir

(maaf saya sendiri pada moment tsb sedang tidak ada di Jakarta)

maka rasanya pengin juga sih , kalo bl September HUT SMA 3 kita-2 bisa temu  di Yogya.

oke temans…….

silahkan dipersiapkan bagi yang berdomisili di Yogya , yang sekiranya lebih mudah komunikasi dengan SMA 3

sumonggo, saya dukung idenya mas Sugiarto

nuwun

regards

Wiwik / angkatan 69

—–Original Message—–
From: padmanaba@yahoogroups.com [mailto:padmanaba@yahoogroups.com] On Behalf Of sugiarto sugiarto
Sent: 27 Juni 2005 11:22
To: padmanaba@yahoogroups.com
Subject: Re: [padmanaba] Nderek dipun tepangaken

Salam Padmanaba
Bulan September HUT SMA 3 semakin dekat

Ada kerinduan di hati yang melekat

Mengapa kita tidak saling melepas rasa rindu

bertemu, berakrab di kota tempat kita bersahabat

Sugiarto/londo jebolan sosbud 1970


Alumni NET

SLTA NET

http://slta.net/

Homepage ini berisi informasi untuk semua Sekolah Menengah (SMU – SMK – MAN) di Indonesia supaya siswa-siswi, guru, kepala sekolah, dan pihak lain yang berminat yang bisa menggunakan Internet dapat saling mengenal dan berkomunikasi. Kalau Anda baru sekali hadir di SLTA.Net mohom klik di sini.

Radio Geronimo 106,1 FM

 http://www.gudeg.net/index_konten.php?act=view&iddNya=503&lang_ver=eng

 Radio Geronimo 106,1 FM

JL. Bung Tarjo (Gayam) No. 24 Yogyakarta INDONESIA 55225
telp: +62-274-511058 fax: +62-274-588978

Sekitar tahun 1968 mengiringi kemajuan jaman, di Yogyakarta mulai bermunculan pemancar-pemancar model broadcasting. Pemancar-pemancar tersebut lahir dari hobby atau kegemaran dibidang elektronika dan senang akan musik atau lagu-lagu manca negara dan lagu-lagu nusantara, yang dipelopori oleh anak-anak muda pada umumnya. Diantara pemancar-pemancar yang bermunculan di Yogyakarta tersebutlah disuatu tempat yang dikenal dengan Jl. Dr. Sutomo No. 45, yaitu sebuah rumah yang didiami oleh Bapak Abdul Mustajab (meninggal tahun 1981) beserta keluarga yang sekarang menjadi bengkel mobil Bambang. Ditempat inilah sekelompok anak muda yang suka berkumpul sambil memutar musik piringan hitam lagu-lagu Barat dan mendengarkan tangga lagu-lagu radio luar negeri pada waktu itu. Dari sekelompok anak muda tersebut lahirlah suatu gagasan, yaitu untuk mendirikan pemancar radio broadcasting.

Setelah mengadakan persiapan dengan teliti dan cermat, maka mengudaralah mereka pada gelombang 56 meter, yang menamakan radionya dengan satu sebutan “Gembel Rapi” yang artinya Gemar Belajar Rajin Berpikir. Mereka menamakan Gembel Rapi disebabkan karena kebanyakan dari mereka masih duduk dibangku SMA dan mahasiswa. Gembel Rapi inilah merupakan cikal bakal adanya radio Geronimo. Pada saat siaran, penyiar-penyiarnya memberikan gelar pada dirinya sendiri yaitu “Senator”.

Pada waktu itu radio ini dikelola oleh para anak muda, antara lain Sonny Kusuma Yuliarso (Senator Valentino), Gatot Kartiyoso (Senator Bonaparte), Abdul Syukur (Senator Ferdinand), Siswanto S. (Senator Onasis), Antono Widodo (Senator Antonio), Sudibyo Placidus (Senator Bonaventura), Ambar Suryanto (Senator Ambasador), Suharto (Senator Romeo), Bambang Widjatmoko (Senator Bambino),  Suprapto Purwijayanto (Senator Edison), Widodo S (Senator Gusti Budha),  Alex Hartrisno (Senator Alexander), Sudjono S (Senator John O),  Bambang Setiawan (Senator Otto von Bismark), Waspodo (Senator Washington), dr Puranto (Senator Al Capone), Pranowo (Senator Old Shatterhand), dan Santo Sewoyo (Senator Santo Bolivar)

Untuk dapat berkomunikasi dengan pendengar dan para pecintanya serta untuk memenuhi permintaan lagu, mereka mempergunakan pesawat telepon nomor 565 yang belum otomatis (untuk menelpon harus menghubungi operator dulu). Pesawat telepon tersebut milik bapak Abdul Mustajab yang diparalelkan dengan sebuah pesawat telepon model kuno. Maka sejak itulah Gembel Rapi makin dicintai anak muda dan setiap bulannya mendapat kiriman piringan hitam dari Jerman Barat.
Wilayah pendengar pada waktu itu hanya mempunyai jangkauan yang sempit, yaitu daerah sekitar Lempuyangan dan sekitar Mataram Theatre sekarang. Disebabkan oleh rasa tidak puas dengan pemancar yang sudah ada, maka pada tahun 1970 mereka membeli pemancar Comand Set dari studio Voice of Padmanaba, yaitu radio milik SMA 3 Padmanaba Yogyakarta, dengan memakai pemancar pada gelombang 106 meter.

Pada tahun 1970, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pemancar radio broadcast di Indonesia. Kemudian dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 1970, yaitu tentang Radio Siaran Non Pemerintah pada tanggal 17 Desember 1970. Disusul kemudian Surat Keputusan No. 25 Tahun 1971, yaitu ketentuan-ketentuan pemberian ijin radio siaran oleh Menteri Perhubungan. Mulai saat itulah Gembel Rapi dinyatakan terdaftar dan mendapat ijin siaran.

Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah tahun 1970 dan diikuti dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 34/KEP/MENPEN/1971, tentang petunjuk umum mengenai kebijaksanaan penyelenggaraan acara serta isi siaran bagi Radio Siaran Non Pemerintah, tanggal 20 April 1971, maka pada tanggal 31 Mei 1971 Gembel Rapi mengakhiri dan memulai kehidupan baru serta nama baru yang dilahirkan oleh Sonny Kusuma Yuliarso Issoedibjo, yaitu PT Radio Geronimo dengan callsign/nama panggilan PM5BMR yang meramaikan kehidupan udara kota Yogyakarta. Nama Geronimo diambil dari nama seorang kepala suku Indian (Apache), yang menceritakan sejarah dalam merintis kehidupan dimulai dari bawah hingga menjadi kepala suku Indian yang bijaksana, gagah berani dan jujur. Pada tahun 1971 ini, pesawat telepon di Yogya mengalami otomatisasi, pesawat telepon nomor 565 berubah menjadi nomor 2395. Sampai dengan tahun 1974, Siswanto Sewoyo menjabat sebagai direktur PT Radio Geronimo, kemudian tahun 1974 s/d 1977 dipegang oleh drs. Suharto dan mulai tahun 1977 hingga sekarang jabatan direktur dipegang oleh Suprapto Purwijayanto.

Pada tahun 1982,merupakan tahun yang sangat penting dalam   kehidupan radio Geronimo, sebab pada tahun ini selaras dengan kemajuan yang telah dicapai maka dirasakan situasi dan lokasi studio radio Geronimo sangatlah kurang memenuhi syarat. Tersebut pula bahwa ada peraturan tentang kriteria stasiun radio dalam hal bangunan fisik yang berisi antara lain harus tersedia ruang kantor, ruang tamu, ruang operator, ruang siaran dan ruang pemancar, ruang diskotik, dapur dan kamar mandi. Selain itu juga ada ketentuan tidak boleh bercampur dengan rumah tangga, sekolah, gereja, kantor lain.

Karena ruangan yang ada di Jl. Dr. Sutomo No. 45 tidak mungkin lagi untuk diperluas, maka atas kesepakatan bersama disetujui untuk pindah lokasi. Sehingga lokasi pemancar yang pada mulanya berada di Jl. Dr. Sutomo No. 45, maka pada tanggal 30 Mei 1982 dipindah ke Jl. Gayam No.38 yang sekarang ini menjadi Jl. Gayam No.24. kepindahan studio radio Geronimo  ke alamat tersebut dikaitkan dengan hari jadi yang ke-11 yaitu pada tanggal 31 Mei 1982. Atas rapat pemegang saham tanggal 10 Desember 1982, maka diadakan perubahan akte notaris PT. Radio Geronimo yang berisi ketentuan Akte Notaris Raden Mas Suryanto Partaningrat S.H. No.120 tertanggal 19 januari 1983, mengukuhkan Suprapto Purwijayanto sebagai Direktur PT. Radio Geronimo Yogyakarta.

Pada tahun 1988 merupakan tahun titik balik dari radio Geronimo dan bahkan mempengaruhi kehidupan radio di Yogyakarta. Dengan mengandalkan otak, akal pikiran, keberanian, permodalan dan perasaan radio Geronimo mulai memfokuskan pada perkembangan teknologi, yaitu pada pemancar dengan frekwensi sangat tinggi, dengan kualitas modulasi yang bersifat “meruang” atau lebih dikenal dengan istilah FM Stereo. Saat bulan puasa 1408 Hijriah, atau tepatnya 18 April 1988 pemancar Geronimo FM Stereo hasil eksperimen para teknisinya mengudara di kota Yogyakarta.

Dengan surat rekomendasi dari pengurus daerah PRSSNI No. 54/S/III/1988, dan rekomendasi dari pengurus pusat PRSSNI No. 32C/PRSSNI/I/1988 tertanggal 30 Maret 1988, Ijin Badan Pembina Radio Siaran Non Pemerintah  No. 000/K/VIII/RSNP/VII/1988 tertanggal 30 Juli 1988, pada tanggal itu juga turun ijin untuk siaran percobaab menggunakan frekwensi 105,8 MHz dengan nama panggilan PM5FIP.

Dengan rasa bangga dan keyakinan serta percaya diri, pada awal tahun 1989, tepatnya pada tanggal 1 Januari 1989 resmilah GERONIMO FM STEREO dengan callsign PM5FIP, Radio Siaran Swasta nasional Indonesia yang memberanikan diri untuk mempelopori sebagai radio yang pertama kali mengudara di kota Yogyakarta dengan menggunakan jalur FM pada frekwensi 105,8 MHz.

Berdasarkan Akte Notaris/PJ Pembuat Akta Tanah R.M Soerjanto Partaningrat, SH nomor 19 tertanggal 26 Desember 1990,  PT. Radio Geronimo telah mengadakan perubahan sebagai berikut:
Kepala akta dihapuskan & diganti kepala akta baru, yang berbunyi sebagai berikut: PT. RADIO GERHA ROWANG NISSREYASA MODANA disingkat “GERONIMO”
Kata-kata ini diambil dari bahasa Kawi, yang dalam bahasa Indonesia artinya Sasana Persahabatan Yang Terbaik dan Menggembirakan. Mulai saat itulah radio Geronimo mulai mengudara dan berkibar dengan nama baru dan menjadi radio siaran swasta nasional bergengsi nomor satu di Yogyakarta.

BROADCAST PROGRAM
Sapa Bhaskara
Jumat-Minggu, 05.00-07.00 WIB

Citra Kota
Setiap hari, 07.00-09.00 WIB

Geronimo’s Top 40
Minggu, 09.00-12.00 WIB

Rolasan
Setiap hari, 12.00-13.0 WIB

Sansero
Setiap hari, 13.00-14.00 WIB

Bursa Nada
Setiap hari kecuali Jumat, 14.00-15.00 WIB

Hai Rock
Minggu, 15.00-16.00 WIB

Ajang Musikal
Minggu, 16.00-17.00 WIB

Gita Pertiwi
Setiap hari, 17.00-19.00 WIB

Andrawina
Setiap hari kecuali Sabtu, 19.00-21.00 WIB

Intermezzo
Minggu, 21.00-22.00 WIB

Pak E Pos
Minggu, 22.00-24.00 WIB

Hot Request
Setiap hari, 24.00-01.00 WIB

Good Morning Youngsters
Senin-Kamis, 05.00-07.00 WIB

Sasanastri
Senin-Sabtu, 09.00-10.00 WIB

Tancap Gas
Senin-Sabtu, 10.00-12.00 WIB

Dasa Tembang Nusantara
Senin, 15.00-16.00 WIB

Musik Ngaso
Senin, Selasa, Kamis, Sabtu, 16.00-17.00 WIB

Folk and Country
Senin, 19.00-20.00 WIB

OIYO
Senin, 21.00-22.00 WIB

Nuansa Ratri
Senin-Rabu, 22.00-23.00 WIB

Apresiasi Musik
Senin, 23.00-24.00 WIB

Klinik 24
Selasa, 16.00-17.00 WIB

Rendesvouz
Selasa, 20.00-21.00 WIB

Radio Gelap
Selasa, 21.00-22.00 WIB

Old TIme Memory
Selasa, 23.00-24.00 WIB

Nu Rabu Rock
Rabu, 15.00-16.00 WIB

Hiptrack
Rabu, 16.00-17.00 WIB

Reggae Special
Rabu, 19.00-20.00 WIB

Teras Jazz
Rabu, 21.00-22.00 WIB

Terbaik Terbaik
Rabu, 23.00-24.00 WIB

Bisik2x Remaja
Kamis, 16.00-17.00 WIB

TTK
Kamis, 21.00-22.00 WIB

Kedai 24
Kamis, 22.00-24.00 WIB

Yogyakarta Top Hits
Jumat, 14.00-15.00 WIB

Geronimo’s Jambore
Jumat, 15.00-16.00 WIB

Sana Sini Soal Agama
Jumat, 16.00-17.00 WIB

Hiphop Fanatics
Jumat, 19.00-20.00 WIB

Moral
Jumat, 20.00-21.00 WIB

Slow Rock Special
Jumat, 22.00-24.00 WIB

Resah
Sabtu, 15.00-16.00 WIB

Yangka Yangki
Sabtu, 19.00 – 21.00 WIB

Agogo
Sabtu, 21.00-23.00 WIB

Muke Kamu
Sabtu, 23.00-24.00 WIB

Surat Pembaca

Surat Pembaca

Peringatan 65 Tahun Padmanaba

SMA Negeri 3 Yogyakarta yang juga dikenal sebagai SMA Padmanaba akan merayakan ulang tahunnya yang ke-65 pada bulan September 2007.

Kami mengundang seluruh alumnus SMA Negeri 3 Yogyakarta di mana pun berada untuk ikut memeriahkan ulang tahun SMA kita tercinta.

Acara lustrum Padmanaba akan berlangsung Sabtu dan Minggu (1 dan 2 September 2007). Adapun acara yang akan digelar di antaranya upacara bendera, sarasehan alumni, pemberian beasiswa dari Yayasan Pendidikan Padmanaba, Munas Padmanaba, dan Malam Keakraban Alumni Padmanaba.

Sarasehan menghadirkan pakar telematika KRMT Roy Suryo yang merupakan alumnus Padmanaba. Kami berharap alumni Padmanaba dapat menghadiri acara ini. Untuk informasi, hubungi Sekretariat Lustrum Padmanaba, SMA Negeri 3 Yogyakarta, Jalan Yos Sudarso Nomor 7 Yogyakarta, telepon 0888-685-0407 (non-SMS), faksimile 0274-556443, e-mail lustrum_padmanaba@yahoo.com, URL: http://www.lustrum.padmanaba.or.id

Eko Putranto Humas Lustrum Yogyakarta

Menyalahkan Kemiskinan

http://nofieiman.com/2007/08/menyalahkan-kemiskinan/

Menyalahkan Kemiskinan

August 15th, 2007 | Economics

Hebatnya bangsa ini, kemiskinan bisa jadi “excuse” untuk melakukan apapun. Mulai dari meminta-minta di jalanan, ngutil barang kepunyaan orang, merusak fasilitas publik, sampai memotong rel kereta api. Mirip-mirip jaman wild west — mencari kesempatan dalam kesengsaraan orang lain.

Barangkali ini bukan sekadar pencurian biasa, karena naluri su’udzon saya membisikkan ini adalah kejahatan terencana. Mencuri rel risikonya tak sepadan dengan usaha yang dikeluarkan. Lebih seru kalau kita potong sedemikian rupa agar kereta anjlok, lalu saat penumpang menyelamatkan diri kita masuk dengan alibi menyelamatkan penumpang sambil mengambil barang berharga. Lima meter rel tak ada artinya dibanding 5 dompet, 5 arloji, 5 ponsel, atau mungkin 5 laptop.

Kalau memang benar adanya, bangsa ini mungkin bangsa yang paling egois dan hanya memikirkan perut sendiri. Dengan alasan kemiskinan haram bisa jadi halal. Kemiskinan bisa menjadi justifikasi untuk berbuat salah.

Adam Smith pernah menyebut bahwa creating wealth pada dasarnya mudah: you improve the skill, dexterity, and judgement of workers. Masalahnya terletak pada how can society do that — bagaimana society (dalam hal ini rakyat Indonesia) bisa meningkatkan productive power mereka masing-masing.

Ini pun sebenarnya “mudah” diatasi, yaitu dengan pertukaran (perdagangan). Manusia memiliki kecenderungan untuk saling menukarkan satu dengan yang lain. Spesialisasi muncul sebagai akibat adanya perbedaan dan keterbatasan talenta yang dimiliki tiap orang. Perbedaan sekaligus keterbatasan tersebut muncul dari kebiasaan, adat istiadat (budaya), maupun pendidikan.

Kita tahu bahwa setiap orang good at one thing. Kita juga tahu bahwa seorang spesialis umumnya bisa melakukan bidang keahliannya lebih cepat dan lebih baik daripada seorang generalis. Perbedaan produktivitas spesialis bisa puluhan atau ratusan kali lebih tinggi daripada produktivitas seorang generalis.

Tapi betapapun manusia menyisakan small part of his wants yang tidak mampu diproduksi sendiri. Akan lebih ekonomis bila ia melakukan pertukaran atas surplus yang dimilikinya terhadap produksi orang lain yang menjadi kebutuhannya. Pertukaran yang kontinu inilah yang kemudian melahirkan commercial society. Semakin sedikit pertukaran yang timbul berarti produktivitas semakin rendah karena semakin sedikit barang/jasa yang go around dan kesejahteraan kian menurun. Begitu juga sebaliknya.

Adam Smith bilang, “And it is goods, not monetary gold or silver, that are the true measure of wealth.” Walau uang tak melulu bisa membeli segalanya, uang bisa membeli peace of mind. Dan karenanya kemiskinan tetap harus diperangi — bukan dengan menukarkan nyawa orang lain untuk mengatasi shortage sesaat, melainkan lewat penanaman kebiasaan hidup dan budaya yang produktif, dan yang tak kalah penting, pendidikan.

Dies Natalis SMAN 3 Yogya

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=138451&actmenu=36

19/10/2007 09:58:17 YOGYA (KR) – Dalam rangka Dies Natalis SMA N 3 Yogyakarta, panitia acara bekerjasama dengan Japan College akan menggelar acara ‘Padmanaba Japan Festival’ dengan mengambil tema ‘Thousand Roads to Japan’. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan Minggu (21/10) di SMAN 3 Yogya.
Demikian diungkapkan Ketua Panitia Reza Yorghi didampingi Koordinator acara Lussy N Ridwan dari Japan College, kepada KR Kamis (18/10). Dijelaskan Lussy, pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan sebagai media hiburan bernuansa Jepang, media penyalur apresiasi, sekaligus sebagai arena berkreasi dan berkompetensi terhadap seni dan kebudayaan Jepang.
“Kegiatan yang akan dilaksanakan diantaranya, Lomba Karaoke Jepang, pertunjukan musik Jepang, menulis hiragana dan katakana untuk SMP dan SMA, membaca hiragana dan katakana untuk SMP dan SMA, Lomba kaligrafi kanji untuk umum, menggambar manga (komik Jepang), Lomba Origami dan Lomba Kreasi Bento,”jelas Lussy.
Diungkapkannya lebih lanjut, pendaftaran lomba dibuka di Aula SMAN 3 Yogyakarta Jl Yos Sudarso 7 Kotabaru, Japan College Jl Sukonandi 9A Yogyakarta, Pengok VCD rental dan Galaxy Media, dengan biaya pendaftaran Rp 15 ribu per lomba. Sedangkan audisi band dilakukan di Manna Studio Jl Suroto 20, Kotabaru Yogyakarta.
Ditambahkan, puncak acara akan dilaksanakan Sabtu (27/10) pukul 10.00 WIB di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret dengan mengusung tema ‘Summer Paradise’. Sedangkan kegiatan yang akan diadakan yaitu Talkshow bertema ‘Beasiswa dan Study di Jepang’ dengan pembicara dari JASSO (Japan Asociation of Student Services Organisation) Jakarta. Selain itu akan digelar juga ‘Pameran Budaya Jepang’ dan aneka bazar, ‘Festival Lampion’ dan ‘Lomba Cosplay’ (Costum Player).
“Acara akan dimeriahkan dengan penampilan band-band aliran J-musik, diantaranya Restu Ibu, Netsubo, Julia dan band Audisi,” ujarnya. Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba.        (M-5)-f

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!